Selamat Datang di Website Nagari Tambang  Kamis  tanggal 27 September 2018,  25 Muharram 1440 H Jadwal Shalat : Subuh : 04.55  Dzuhur : 12.27  Ashar : 15.49  Magrib : 18.29  Isya : 19.41 WIB

 

Sejarah Desa

Administrator 26 Agustus 2016 15:38:09

Sekitar tahun 1800-an sebanyak 14 orang penduduk Nagari Pancung Taba Ngalau Gadang dan Limau-Limau meninggalkan kampung mBereka untuk mencari wilayah baru. Mereka berjalan kaki ke arah selatan Pancung Taba Kecamatan Bayang Utara menyusuri punggung perbukitan yang terletak di belakang kampung yang mereka tinggalkan. Sesampainya mereka di bukit Ganduang Kuciang ( karena di bukit ini kucing yang mereka bawa bertengkar), mereka menuruni Bukit tersebut ke arah bawah sungai Batang Salido tepatnya di Bilah-bilahan, di sini mereka memilah-milah kemana arah yang akan mereka tuju.

Annggota rombongan dibagi dua, separuh ke Koto Lamo dan kemudian ke Bukit Sari Bulan (Kampung Koto Rawang) lalu ke selatan Koto Tambang dan sebagian lagi mengarah ke Salido Kecil.Setelah jumlah kelompok kaum bertambah dan berkembang, mulailah mereka dengan bersama-sama (bergotong-royong) mengerjakan sawah, ladang, begitupun bandar sawah dan didirikanlah pondok tempat tinggal serta disusun aturan adat kelompok dangan kelompok lain.  Kemudian  dengan aturan (adat) ini maka tahulah mereka tata cara bergaul dengan jalan bersama-sama, maka di daerah kelompok yang mulai tersusun disebut dusun, artinya tersusun aturan.

Setelah pemikiran –pemikiran dari pemuka kelompok ini satu kata, maka daerahnya dinamakan ”Koto” artinya mereka sekato. Maka di Nagari Tambang ada tiga buah namanya Koto semasa dulunya seperti Koto Rawang, Koto Lamo di Salido Kecil dan Koto Tambang. Kemudian koto dikumpulkan menjadi sebuah kampung, asal kata kampung dilanjutkan menjadi Nagari. Nagari mempunyai batas-batas dan wilayah Pemerintahan. Asal kata Nagari adalah dipagari dengan adat (aturan)

Adapun Nagari Tambang ini tidaklah terjadi begitu saja, tetapi melalui aturan dan proses secara alami, dengan kata adat ” Kok Ketek nan balingka tanah, gadang nan balingka adat”  Setelah pemekaran maka Nagari Tambang terbagi menjadi 3 (tiga) Kenagarian yaitu Nagari Koto Rawang, Nagari Salido Sari Bulan dan Nagari Tambang. 

Nagari Tambang terdiri dari beberapa kaum 3 (ltiga) suku yaitu suku Melayu, Tanjung dan Caniago. Masing-masing suku bapandam baaturan, basasok bajarami, basawah baladang, baranak bakamanakan dan lain-lainnya. Ninik mamak di Nagari Tambang saat ini ada 7 (tujuh) orang dengan memakai aturan adat salingka nagari ”buek salingka kampung” kepemilikan tanah yaitunya tanah ulayat kaum, tanah ulayat suku dan ulayat nagari.

Wilayah Nagari Tambang dulunya merupakan daerah tambang emas Kolonial Belanda, sehingga aktivitas pekerjaan masyarakat waktu itu adalah buruh tambang emas, sampai saat sekarang ini masih terlihat terowongan dan puing-puing bekas pabrik pengolahan emas.

Penduduk Nagari Tambang datang dari Lumpo dan Bayang, tapi pada umumnya berasal dari Darek Koto Anau. Setibanya di Tambang, mereka melihat batang sungai Salido keruh lalu mereka berjalan kearah utara lalu mereka duduk di Batu Hampa Lubuk Emas ( karena batu tempat duduk tersebut berhamparan). Asal kata Lubuk Emas karena lubuk ini tali urat emas terlubuk (terkumpul) tetapi belum belum diolah sampai saat ini.

Kampung Mesin Gergaji merupakan salah satu Kampung dalam Nagari Tambang. Asal mula namanya dulu ada Mesin Gergaji punya Belanda untuk alat keperluan tambang emas,

Pada tahun 1915 banjir besar menggenangi seluruh kampung, kejadian ini tidak menimbulkan korban jiwa namun merusak rumah-rumah masyarakat dan menghanyutkan mesjid dan sekolah.

Pada tahun 1992 banjir kembali menghantam Nagari Tambang yang mengakibatkan masyarakat hanyut, tapi tidak menimbulkan korban jiwa. 22 rumah rusak dan ternak banyak yang hanyut. 

Pada tahun 2012 terjadi banjir dan tanah longsor yang mengakibatkan rumah rusak, jalan rusak dan jembatan putus. Banyak rumah yang rawan terhadap tanah longsor karena perumahan masyarakat banyak yang berda di di tepi perbukitan.

Pada tahun 2012 Nagari Tambang di kunjungi oleh Bapak Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Bpk. Helmy Faisal Zaini dan Wakil Ketua BPK dalam rangka peresmian Jembatan Gantung di Kampung Olo Tambang yang di dampingi oleh Bupati Pesisir Selatan Nasrul Abit.

Pada awal tahun 2015 terjadi banjir  bandang dan tanah longsor yang mengakibatkan rumah rusak, jalan rusak dan jembatan gantung yang baru diresmikan oleh Bapak Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Bpk. Helmy Faisal Zaini putus. 1 (satu)  orang warga kampung Mesin Gergaji hanyut dan ditemukan  alam keadaan sudah meninggal. Banyak sawah yang hanyut serta banyak rumah yang rawan terhadap tanah longsor karena perumahan masyarakat banyak yang berda di di tepi perbukitan.

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun)

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)

Nama
Alamat e-mail
Komentar
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 

Peta Desa

Layanan Mandiri


Silakan datang atau hubungi operator nagari untuk mendapatkan kode PIN anda.

Masukan NIK dan PIN

Aparatur Nagari

Wali Nagari Sekretaris Nagari Kasi Pemerintahan Kasi Kesejahteraan dan Pelayanan Kaur Tata Usaha Kaur Perencanaan BENDAHARA Kepala Kp.Tambang Kepala Kp.M.Gergaji

Sinergi Program

Komentar Terkini

Info Media Sosial

Facebook

Lokasi Kantor Nagari

tampilkan dalam peta lebih besar

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung